Selasa, 28 September 2010

Fenomena Mudik di Hari Lebaran



Taqobbalallahu minna waminkum...
Minal 'Aidin Wal Faizin...

Semoga amal ibadah kita di Bulan Ramadhan 1431 H ini diterima oleh Allah SWT, dan kita kembali kepada fitrah, kembali dalam kesucian...
______________________________________
________________________________________________

Walaupun artikel ini terlambat, ya... tak salah juga saya sebagai penulis untuk mengungkapkan kembali suatu fenomena di hari lebaran...
Kita semua tahu fenomena yang terjadi di hari lebaran yaitu mudik.
Kali ini saya akan menguak fenomena mudik di hari lebaran, selamat membaca...
______________________________________________________________________________________


Menjelang datangnya hari raya Idul Fitri, aktivitas umat Islam makin meningkat, khususnya dalam rangka mempersiapkan diri untuk merayakan hari yang suci tersebut.
Pasar, mal begitu ramai dipadati umat Islam yang akan membeli aneka macam kebutuhan makanan, pakaian dan sebagainya untuk menyambut hari raya Idul Fitri. Fenomena sosial yang amat mudah diamati menjelang hari raya Idul Fitri adalah budaya mudik Lebaran sehingga transportasi menjadi masalah utama menjelang dan sesudah hari raya.
Fenomena sosial mudik adalah pulangnya para pendatang yang tinggal di kota ke desanya menjelang Lebaran (hari raya Idul Fitri), untuk sungkeman kepada kedua orangtua, bersilaturahim dengan keluarga besar dan tetangga. Tradisi mudik menunjukkan, betapa ikatan seseorang dengan tempat kelahirannya saat masih kecil di desa, masih mempunyai makna tersendiri dan menempati ruang kesadaran yang cukup penting. Selama setahun mereka meninggalkan desa kampung halamannya bekerja di kota membanting tulang siang dan malam, bekerja keras untuk memperbaiki nasib, mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari sebelumnya, setelah mereka dapatkan semua, kesuksesan sudah di tangannya, ada kerinduan yang sangat mendalam untuk kembali ke kampung halamannya dengan cara mudik lebaran.


Tradisi mudik telah menjadi drama kolosal yang dipentaskan tiap tahun. Fenomena mudik menarik, kadang memilukan dan menyesakkan dada kita, bagaimana manusia saling berjejalan, berebut untuk bisa menaiki kereta, bus dan alat transportasi lainnya. Dalam situasi demikian, pasti tidak bisa dihindari terjadi kecelakaan, dan tindakan kriminal seperti penjarahan, pencopetan, pemerasan, penodongan yang sering melahirkan tindak kekejaman dengan melukai tubuh korban.
Tradisi mudik telah menjadi fenomena sosial dan kultural yang sangat unik, sehingga pemudik sudah tidak lagi mempertimbangkan untung rugi secara ekonomis, dan berbagai kesulitan dan risiko yang mungkin terjadi seperti kecelakaan dan tindak kriminalitas. Ada kepuasan emosional yang dialami dengan mudik, sebab seseorang dapat menunjukan kesuksesan dirinya pada sanak keluarga dan lingkungan tetangga di desa dan apa yang dilakukan di kota dengan segala suka duka, tidak sia-sia.
Pamer kesuksesan inilah yang terkadang menimbulkan keinginan dari keluarga dan tetangga ingin ikut ke kota bersamanya, menumpang kesuksesannya sebagai jembatan mengubah nasib, maka terjadilah arus urbanisasi besar-besaran. Berkenaan dengan fenomena mudik, sebenarnya kita tidak bisa mengatakan itu sebagai gejala set-back, kemunduran atau keterbelakangan. Di negara Amerika, sebuah negara yang diklaim sebagai negara modern pun, fenomena mudik juga terjadi, yakni tepatnya pada saat mereka merayakan Thank-giving Day. Di beberapa bandara terjadi luapan penumpang dan di mana-mana terjadilah fenomena traffic-jams atau kemacetan lalu lintas.
Dari segi ajaran agama, mudik merupakan pelaksanaan perintah agama, yakni menjadikan Idul Fitri sebagai sarana untuk saling bermaaf-maafan setelah menjalani tobat dan meminta ampun kepada Allah SWT. Sebagai sarana meminta maaf, Idul Fitri merupakan ajang saling menjalin silaturahim, menjalin kasih sayang yang dimulai dengan meminta maaf kepada orangtua dan sanak saudara. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam merayakan dan melaksanakan Idul Fitri.
Secara tradisi mudik juga menjadi proses pembebasan dari berbagai beban psikologis dan kejiwaan, akibat hubungan metafisis dengan masa lalu yang melekat. Dengan mudik seseorang akan memasuki pengalaman spiritual, menyambung kembali dengan akar spiritualitasnya, bertemu dengan ayah dan ibu, orang yang dituakan, keluarga serta lingkungan yang pernah berjasa mengukir kehidupan pribadinya. Karena itu, tradisi mudik membuat seseorang dapat menimba kembali daya hidupnya dan merajut semangat baru, sebagai bekal memenangkan persaingan yang semakin keras. Apalagi dengan doa restu orangtuanya, daya hidup itu menjadi berlipat, mengalahkan semua pertimbangan rasional. Tidak ada artinya kelelahan dan pengorbanan mendapatkan daya hidup yang amat penting bagi kehidupan masa depan lebih baik. Tradisi sungkem kepada kedua orang tua sangat dianjurkan dalam agama Islam. Islam mewajibkan kepada kepada orang beriman untuk menghormati ibu bapaknya sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an: “ Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaknyalah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu sebaik-baiknya”. (QS. Al-Isra’: 23).
Mudik memang penuh misteri. Dengan mudik, seseorang dapat mengalami proses pembebasan dan pencerahan spiritual, di mana seseorang dapat menimba daya hidup dan semangat baru, untuk dapat melanjutkan perjalanan hidupnya ke masa depan yang lebih baik. Misteri mudik adalah misteri kehidupan kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar